Terdeteksi Lubang Hitam Massa Stellar Terbesar
Sebuah lubang hitam massa stellar yang terdeteksi para astronom AS ini mungkin yang terbesar di kelasnya. Objek yang berada di konstelasi Cassiopeia berjarak 1,8 juta tahun cahaya dari Bumi itu diperkirakan memiliki massa antara 24 hingga 33 kali massa Matahari.Temuan ini memecahkan rekor lubang hitam massa stellar terbesar sebelumnya yang ditemukan pada 17 Oktober 2007. Lubang hitam pada galaksi M33 itu memiliki massa 16 kali Matahari.Meski tak sebesar jenis lainnya yang disebut lubang hitam supermasif, objek yang terbentuk dari runtuhan massa bintang yang sedang sekarat ini memiliki medan magnet gravitasi yang begitu besar sampai-sampai cahaya pun tak dapat keluar darinya. Para astronom dapat menghitung massanya dengan mengukur emisi gas dan pengaruh gravitasi bintang yang dikelilinginya. Kali ini, mereka dapat mengukur massa lubang hitam tersebut lebih mudah karena ia mengorbit sebuah bintang yang panas dan memancarkan cahaya sangat terang. Bintang mengeluarkan gas dalam bentuk angin. Sebagian materinya yang mengalir ke pusat luibang hitam membentuk spiral akan dipanaskan dan mengeluarkan pancaran sinar-X berintensitas sangat tinggi sebelum terjebak.
Ditemukan Lubang Raksasa di Langit
Di salah satu sudut langit nun jauh di sana terdapat area kosong, wilayah yang bersih dari galaksi, bintang-bintang, bahkan materi hitam. Meski bentuk alam semesta sendiri tak dapat dibayangkan seorangpun sampai sekarang, pantas kalau bagian tersebut disebut sebagai lubang di alam semesta.Tim ilmuwan dan astronom dari Universitas Minnesota, AS menyatakan lebar lubang tersebut sekitar satu miliar tahun cahaya. Saat menemukannya, mereka hanya bisa tertegun karena tak mendapati objek apapun di sana. Lubang tersebut tidak dapat diamati langsung dengan teropong namun jelas terlihat jika dilihat sebaran gaya tariknya. “Tidak seorangpun pernah menemukan lubang sebesar ini, namun tidak hanya itu saja, kami juga tak pernah membayangkan menemukan yang selebar ini,” ujar Lawrence Rudnick, profesor astronomi dari Universitas Minnesota. Para astronom sejak lama telah mengetahui bahwa beberapa bagian di alam semesta tidak mengandung materi alias berlubang namun tidak pernah ditemukan hingga sebesar ini.Seperti dilaporkan dalam Astrophysical Journal edisi terbaru, Rudnick beserta koleganya Shea Brown dan Liliya Williams dapat mengukur lubang tersebut menggunakan data-data teleskop radio. Mereka menemukan hasil yang sama antara hasil survai langit dengan hasil pengukuran menggunakan satelit Wilkinson Microwave Anisotropy Probe. Tim peneliti menemukan bukti pertama saat mempelajari data NRAO VLA Sky Survey. Di arah konstelasi (rasi) Eridanus, sebelah barat daya Orion, pada jarak antara 6-10 miliar tahun cahaya dari Bumi, ternyata sangat kosong. Jumlah galaksi begitu sedikit dibandingkan bagian-bagian belahan langit lainnya. Bagian ini jelas terlihat kosong karena survai mencakup 82 persen belahan langit berkat teleskop berukuran besar (Very Large Array) yang ada di National Radio Astronomy Observatory (NRAO) di New Mexico. “Kami tahu ada yang berbeda di bagian ini,” ujar Rudnick. Pihaknya memastikan ukuran lubang yang sama saat melakukan analisis Cosmic Microwave Background (CMB), gelombang radio lemah sisa radiasi Big Bang saat lahirnya alam semesta. Data-data tersebut diperoleh dari satelit Wilkinsons Microwave Anisotopy Probe milik AS antara tahun 2001 hingga 2004. Pengukuran satelit menunjukkan bahwa bagian tersebut relatif lebih dingin dari sekitarnya. Meski masih harus dikonfirmasi ulang, suhu yang lebih rendah di CMB - menurut para ilmuwan – disebabkan lubang besar yang bebas dari materi apapun.
“Apa yang kami temukan tidak normal, baik berdasarkan pengamatan langsung maupun simulasi komputer terhadap evolusi alam semesta dalam skala besar,” ujar Williams. Ia dan timnya juga tidak mengetahui bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Misterius memang.
Banyak Tata Surya Lain di Alam Semesta
Sistem tata surya dengan sebuah bintang yang dikelilingi planet-planet mungkin hal yang jamak di alam semesta. Para astronom telah menemukan bukti-bukti yang menunjukkan adanya bintang yang dikelilingi lebih satu planet, meski masih sangat jarang terlihat.Dari 28 planet asing di luar tata surya kita yang ditemukan sepanjang tahun lalu, terdapat planet-planet yang mengelilingi satu bintang. Temuan ini tidak hanya menambah panjang daftar planet asing yang telah ditemukan sebelumnya yakni 236 planet, tapi juga menguatkan bukti bahwa sistem planet-planet merupakan hal yang jamak di alam semesta. “Kami menambahkan 12 persen dari seluruh objek planet asing tahun lalu dan kami sangat bangga karenanya,” ujar Jason Wright, salah satu astronom dari Universitas California Berkeley yang melaporkan temuan tersebut dalam pertemuan Masyarakat Astronomi Amerika (AAS), Selasa (29/5). Semakin banyaknya temuan planet asing tidak lepas dari kemampuan teknologi pengamatan objek langit yang semakin maju. karena jarak yang sangat jauh, para astronom belum sanggup melihat langsung planet asing tersebut. Untuk mengetahui adanya planet asing, para astronom mendeteksinya dari ’riak’ cahaya bintang yang terjadi saat sebuah planet transit atau bergerak di antara bintang dan pengamat. Jika 15 tahun lalu para peneliti dapat mendeteksi adanya ’riak’ dengan resolusi 10 meter perdetik, kini mereka sanggup dengan satu meter perdetik.Sistem planet-planetSetidaknya empat dari seluruh planet asing yang baru diketahui berada dalam satu sistem planet-planet seperti tata surya kita. Hal tersebut menunjukkan, bahwa objek serupa planet dan sistem seperti tata surya kita merupakan sistem yang jamak dan banyak ditemukan di luar angkasa. Sebuah bintang kerdil merah tipe M yang jauh lebih kecil, lebih redup, dan lebih dingin dibandingkan Matahari mungkin dikelilingi lebih dari sebuah planet.Kebanyakan planet asing yang terdeteksi memang objek yang seukuran Saturnus. Planet seukuran Bumi di luar tata surya kita mungkin masih sulit dideteksi, namun para astronom yakin akan semakin banyak ditemukan planet asing saat teknologi untuk mengamatinya semakin maju.Planet asing terkecil yang pernah terdeteksi berukuran 5 kali massa Bumi. Planet yang diberi nama 581 c mengelilingi bintang kerdil merah bernama Gliese 581 yang berada pada jarak 190 triliun kilometer dari Bumi. Namun, planet ini belum teridentifikasi hingga detail komposisinya. Sedangkan planet kecil lainnya seukuran Neptunus. Planet ini mengelilingi sebuah bintang tipe M bernama Gliese 436 (GJ 436) yang berada 30 tahun cahaya dari Bumi. Ukurannya sekitar 22,4 kali massa Bumi. Saat ini, para pemburu planet asing akan semakin tertarik berburu ’riak’ pada bintang-bintang tipe M. Sebab, sekitar 70 persen bintang di alam semesta diperkirakan termasuk dalam tipe M.Namun, pencarian planet juga dilakukan ke bintang-bintang tipe A atau F. Tiga dari planet asing yang ditemukan tahun lalu mengelilingi bintang yang massanya masin-masing 1,6 dan 1,9 kali massa Matahari. Namun, karena bintang jenis ini berotasi sangat cepat dan memiliki atmosfer yang berdenyut, sulit mendeteksi planet berukuran kecil dan hanya panet-planet raksasa seukuran Jupiter yang dapat terdeteksi.Mendukung kehidupanPencarian planet-planet asing tidak berhenti hingga penemuan. Misi yang lebih menantang bagi para astronom adalah menemukan planet asing yang mendukung kehidupan seperti Bumi yakni dengan mencari tanda-tanda keberadaan air, oksigen, es, atau unsur lainnya.Sejauh ini, hanya beberapa planet asing terdeteksi mengandung unsur pendukung kehidupan. Planet yang mengelilingi GJ 436, misalnya, diperkirakan memiliki lapisan es beku dan bukannya planet gas seperti planet-planet asing umumnya. Sedangkan 581 c dengan ukuran tak lebih besar dari Bumi mungkin padat dan mengandung unsur pembentuk kehidupan.
Dengan ditemukannya es, planet yang mendukung kehidupan dengan kandungan air dan oksigen seperti Bumi mungkin tersebar di berbagai sudut alam semesta.
Air Terlihat di Planet Asing
Bukti adanya air telah terdeteksi untuk pertama kalinya di sebuah planet di luar tata surya kita. Hal ini memunculkan kembali keingintahuan para peneliti mengenai apakah ada kehidupan lain di luar Bumi. Demikian diungkapkan para astronom di Observatorium Lowell, Flagstaff, Arizona.Travis Barman, salah seorang astronom, mengatakan bahwa mereka berhasil menemukan uap air di atmosfer sebuah planet gas besar serupa Jupiter yang berada 150 tahun cahaya dari Bumi pada arah gugus bintang Pegasus. Planet itu dikenal dengan nama HD 209458b. “Ini adalah kabar baik karena kami telah lama menduga ada air di atmosfer planet itu dan juga planet-planet lain,” kata Barman. Penelitian mengenai keberadaan uap air itu dimungkinkan karena bila dilihat dari Bumi, planet tersebut mengorbit bintangnya tepat di muka bintang tersebut setiap 3-1/2 hari, sehingga memungkinkan dilakukannya pengukuran. Inilah yang disebut sebagai planet transit. Planet transit akan terlihat mengambang lewat di depan bintangnya bila dilihat dari Bumi.Sudah sejak lama para ilmuwan berusaha mencari keberadaan air di planet lain – baik di dalam maupun di luar tata surya kita – karena air diyakini merupakan unsur pokok bagi kehidupan. Meski demikian Barman memberi catatan bahwa planet gas seperti Jupiter dan planet ini, sepertinya kurang mungkin memiliki kehidupan. Kehidupan lebih mungkin ditemukan di planet batu seperti Bumi atau Mars. Ia mengatakan, penemuan uap air di atmosfer HD 209458b belum bisa menjawab pertanyaan mengenai keberadaan kehidupan asing di luar sana.“Ini adalah bagian dari teka-teki karena pengetahuan mengenai penyebaran air di tata surya lain adalah hal yang penting untuk mencari tahu apakah tempat itu bisa mendukung kehidupan atau tidak,” katanya. “Keberadaan air tidak selalu seiring dengan keberadaan kehidupan, namun juga bukan berarti tidak mungkin ada kehidupan di sana.”